"Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari hadapanmu dan berfirman: 'Hancurkan!'"
SUNGUT SUNGUT VS SUNGGUH SUNGGUH
Rasa lelah yang menumpuk sering kali menjadi pintu masuk bagi sungut-sungut tanpa kita sadari. Ketika ekspektasi tidak sejalan dengan kenyataan, gerutu kecil mulai menyusup ke bibir, memandu gestur tubuh kita menjadi lesu dan penuh kejengkelan. Dalam bahasa Ibrani, kata 'lun' mendeskripsikan tindakan menggerutu iniβbukan sekadar keluhan lisan, melainkan bahasa tubuh dan sikap batin yang menolak tunduk, sebuah ekspresi ketidak hormatan yang menyebalkan ketika disaksikan.
Bangsa Israel di padang belantara Sin memperlihatkan betapa dahsyatnya racun sungut-sungut. Di hadapan perut yang lapar, ingatan mereka mendadak mengalami distorsi yang aneh. Mereka merindukan 'kuali berisi daging' di Mesir dan membayangkan kehidupan masa lalu jauh lebih nikmat. Padahal, kenyataan sejarah mencatat mereka berada di bawah cengkeraman perbudakan yang amat menyiksa selama 400 tahun. Mengeluh tidak pernah memperbaiki keadaan; ia justru membesar-besarkan kesulitan masa kini dan mengaburkan memori akan kebaikan Tuhan di masa lalu. Ketika kita gagal 'move on' dan terus meratapi situasi, kita sebenarnya sedang merendahkan Allah yang telah setia memelihara hidup kita.
Jalan keluar dari cengkeraman 'lun' adalah mengalihkan fokus dari apa yang hilang kepada Siapa yang memelihara. Dibandingkan menghabiskan energi untuk mengomel atas pekerjaan atau pergumulan yang ada, Tuhan memanggil kita untuk mengerjakannya dengan 'sungguh-sungguh'. Kesungguhan hati adalah ekspresi iman bahwa Allah hadir di dalam setiap detail tugas yang dioperkan-Nya ke tangan kita. Ketika hati dipenuhi komitmen untuk melayani Tuhan dengan setia, tidak ada lagi ruang tersisa bagi sungut-sungut.
Poin Perenungan Hari ini:
- Mengenali Racun Mengeluh: Segera sadari ketika bibir mulai menggerutu, lalu ubahlah keluhan itu menjadi doa yang jujur di hadapan Tuhan.
- Mengerjakan Bagian dengan Sungguh-sungguh: Melakukan setiap tugas harian dengan integritas dan rasa syukur sebagai wujud rasa percaya pada pemeliharaan Allah.
Langkah kaki di padang belantara kehidupan ini memang sering kali melelahkan. Namun ingatlah bahwa Tuhan yang menuntun keluar dari Mesir tidak akan pernah menelantarkan Anda di tengah jalan. Kiranya embun rahmat-Nya menyegarkan jiwa Anda yang letih hari ini. Tetaplah melangkah dengan setia dan percayalah bahwa janji pemeliharaan-Nya selalu cukup untuk setiap hari baru.
Tuhan Yesus memberkati!