"Jangan seorang pun meremehkan engkau karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, tingkah lakumu, kasihmu, imanmu, dan kemurnianmu."
MEMBERI DARI KERINDUAN HATI
Hitungan kalkulator sering kali menjadi lebih nyaring ketika dompet terasa makin tipis. Saat tekanan hidup meningkat dan ketidakpastian membayangi esok hari, refleks alami kita adalah menggenggam erat-erat apa yang ada di tangan. Kita mendadak menjadi sangat matematis dalam memperhitungkan untung dan rugi, hingga memberi pun terasa seperti ancaman bagi kelangsungan hidup diri sendiri.
Namun, perhatikan bagaimana Allah menuntun bangsa Israel di padang gurun. Sebelum mereka melangkah keluar dari Mesir sebagai mantan budak, Allah telah menggerakkan hati orang Mesir untuk membekali mereka dengan emas, perak, dan kain-kain berharga. Kekayaan yang mereka pegang di belantara Sinai sebenarnya adalah kemurahan Allah yang mendahului kebutuhan mereka. Ketika Allah meminta Musa mengumpulkan persembahan untuk membangun Kemah Suci, Ia tidak menuntut pajak paksaan. Allah hanya mencari pemberian dari setiap orang yang 'terdorong hatinya'. Pembangunan tempat kediaman-Nya di tengah umat tidak didasari oleh keputusasaan finansial, melainkan oleh respons kasih yang sukarela.
Belajar memberi yang terbaikβbaik berupa harta, waktu, maupun tenagaβadalah latihan iman untuk melepaskan genggaman ketakutan kita. Ketika kita menyadari bahwa salib Kristus adalah bukti terbesar di mana Allah telah memberikan yang terbaik bagi kita, kalkulasi rugi-laba dalam persembahan secara bertahap luluh. Kita tidak lagi memberi agar diberkati, melainkan memberi karena sadar telah dipulihkan dan dikasihi tanpa batas.
Poin Perenungan Hari ini:
- Mengingat Sumber Berkat: Menyadari bahwa setiap harta, bakat, dan waktu yang kita miliki saat ini merupakan kelimpahan rahmat yang diawali dari kebaikan Allah sendiri.
- Memberi Tanpa Ketakutan: Melatih hati untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama tanpa terjebak dalam hitung-hitungan ketakutan akan kekurangan.
Bila hari ini hatimu terasa berat untuk memberi, pandanglah kembali betapa melimpahnya rahmat yang telah kamu terima. Tuhan tidak sedang mencari kelimpahan hartamu, melainkan merindukan kedalaman kasih di dalam hatimu. Lepaskanlah kekhawatiranmu dan percayalah bahwa Tangan yang memberimu benih adalah Tangan yang sama yang akan mencukupkan kebutuhanmu. Melangkahlah dengan lega, sebab persembahan yang terbit dari kerelaan hati selalu mendatangkan sukacita yang sejati.
Tuhan Yesus memberkati!